Selasa, 06 Maret 2012

Niat baik (harusnya) disambut baik dong !

Tetangga saya, tinggal di gang sebelah yang baru saja menamatkan Master of  Education di Austalia, baru-baru ini punya ide untuk mengajar anak-anak usia TK dan SD bahasa Inggris, dengan tema  bermain sambil belajar tiap hari Minggu sore secara cuma-cuma. Saya, tentu saja menyambut dengan antusias sekali, saking antusiasnya sayapun dengan sukarela mengajak tetangga kiri kanan dan depan rumah saya untuk mengikutkan anaknya ke dalam kelompok belajar itu. Tadinya saya pikir, program ini bakalan menarik buat anak-anak disekitar yang  rata-rata masih usia TK dan SD. Sayapun terus mensupport beliau.

Selain orangnya menyenangkan, mungkin karena kami berlatar belakang pendidikan yang sama, keguruan pembicaraan kami pun nyambung dari percakapan ke percakapan. Memang kami jarang bertemu, paling sebulan sekali atau ketemu tak sengaja karena kami sama-sama sibuk. Namun, kemudahan berkomunikasi tak menghambat keakraban kami.

Hari minggupun tiba, hujan deras mengguyur tepat pada saat kelompok belajar akan dimulai. Anak saya, lala tetap berangkat dengan ‘membawa’ 2 orang temannya. Dan ternyata, memang hanya mereka  bertiga yang datang. Kecewa? Saya rasa iya, namun saya berusaha menghibur, mungkin karena hujan, jadi anak-anak enggan keluar rumah. Saya khawatir beliau jadi patah semangat (padahal anak saya sudah semangat banget). Minggu kedua, cuaca cerah, dan  saya berharap teman-teman lala yang lain banyak yang datang. Tapi sepulangnya dari kelompok belajar, ternyata hanya 1 orang yang berhasil dibawa lala. Waahh... alasan apalagi ini ? Si Ibu pengajarpun tampak kecewa, beliau bilang akan mengevaluasi progam ini 2 bulan kedepan, kalau yang datang hanya 3 ya sudah, berhenti saja.  Tuh kan ? apa yang saya bayangkan terjadi juga....

Minggu ketigapun datang, Kali ini hujan deras benar2 datang tepat pada saat anak saya mau berangkat. Dengan bersemangat dia mendatangi rumah teman-temannya. Dengan polos saya lihat dari balik jendela Lala bilang “Nanti nyusul ya?” sambil kerepotan membawa payung yang kebesaran. Diam-diam, saya bangga pada sulung saya, meski hujan dan saya tak memaksanya berangkat, dengan kesadaran dia berangkat karena menurutnya, belajarnya menyenangkan! Saya hari ini berniat menyusul anak saya. Saat sampai di tempat belajar,  ada 3 orang anak yang datang (dan yang 1 anak menyusul kemudian) Ah lumayanlah....

Kami berbincang, bahwa ternyata  keinginan berbuat baik tak selalu disambut baik. “Kenapa ya. Bu?” beliau berkata galau. Saya jawab, tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, mungkin kalau bayar mereka malah antusias Bu! Saya mencoba bercanda, meski sebetulnya saya sangat menyayangkan kejadian ini.
Tapi berita baiknya beliau berkata : “Meski yang datang hanya 3 orang, saya akan mengajar mereka dengan sungguh2, saya akan buktikan 3 orang tak mempengaruhi apapun !” Wah saya terkejut sekaligus senang bukan kepalang. Iya, untuk seorang pengajar sekelas  beliau, saya akan percaya diatas 100%  akan kualitas dan keberhasilannya. Juga, saya salut disela-sela waktunya menulis buku, sebagai dosen, beliau masih menyempatkan berbagi ilmu dengan orang terdekat, tetangga. Bukankah dalam agama juga, tetangga menduduki peran penting dan harus didahulukan ketika kita akan berbagi ?

Di akhir perjumpaan, beliau berkata, “Bu, saya punya sesuatu !” Beliaupun mengambil sesuatu yang ternyata high heels yang dibelinya di Australia dan pas sekali dikaki saya. Saya bilang, hidup kalau pas memang menyenangkan, pas saya mau beli sepatu, eh pas dikasih ! kami tergelak dan mengakhiri  percakapan di sore yang diguyur hujan.

Pastinya, punya tetangga memang menyenangkan, jika kita bisa saling support, membantu, menyingkirkan segala prasangka buruk dan  banyak hal yang mengganggu.


Jumat, 02 Maret 2012

Liburan asyik di Batu, Malang

Liburan desember lalu, kami mengunjungi malang, Kota yang sudah sekian lama ingin saya kunjungi. Penasaran!

Sayangnya, saat peak season, susah banget nyari tempat penginapan di Batu dan Songgoriti lewat internet. Padahal nih, kalo saja berbekal nekat, banyak vila masih kosong disana. Yah, namanya juga pengalaman pertama 

Berangkat dari Semarang tengah malam lewat Solo, Kediri, Nganjuk.....sampailah kami di Batu, Malang sekitar jam 10 pagi. Istirahat sebentar, nyebur di kolam renang songgoriti dan sorenya istirahat seharian di Vila. Hmm.. sejuknya udara dan indahnya tempat yang dikelilingi pegunungan membuat lelahnya perjalanan sekitar 10 jam jadi terbayar !!

Paginya, kami menuju ke Jatim Park 2 yang juga terletak di kota Batu. Antri tiketnya?? Jngan tanya! Kami harus bersabar menunggu antrian yang mengular pada hari Sabtu. Maklum week end dan juga pas libur sekolah. Tiket week-end Rp. 75.000 per orang, kalau week days Rp. 65 ribu. Ini tiket terusan dari Batu Secret Zoo – Jatim park 2 – Museum Satwa. Anak saya yang belum genap 3 thn juga harus membayar penuh karena batas untuk pembayaran penuh ukurannya bukan umur, melainkan tinggi badan nggak lebih dari 80 cm! Uniknya Pohon Inn dan kerennya Museum Satwa di kawasan Jatim park jadi objek untuk berfoto yang menarik !!

Pertama masuk, kami sudah disuguhi pemandangan asyikk. Hamparan pegunungan menghijau dan penataan lokasi wisata yang sedemikian rupa memanjakan para pengunjung.

Kami berjalan menuju Batu Secret Zoo. Kebun Binatang Modern bertaraf internasional yang dilengkapi dengan pengetahuan. Sangat menyenangkan untuk wisata edukasi anak2. Berkali kali kami salah menebak gambar mata, kaki binatang ... membuat kami terbahak, terutama anak sulung saya.

Oya, batu secret Zoo sendiri terdiri dari beberapa Area,

Batu Secret Zoo A
Dalam area ini terdapat berbagai macam Primata, Lemur, Landak, Kasuari, Merak Putih, Ular Phiton, dan berbagai macam burung yang terbang bebas di atas kita yang menjadikan suasana di area ini seperti di alam liar yang sebenarnya.

Akuarium
Wah.. anak bungsu saya suka sekali disini. Berbagai macam akuarium dan ikan mengisi area ini. Tentu saja, ini menambah pengetahuan akan beragamnya ikan dan binatang air…

Mancing harimau,
Disini wisatawan dapat memberi makan harimau putih, dan menjadikan atraksi ini menarik. Lantaran ngeri bawa anak2 kecil jadi nggak sempat ambil foto disini…


Savannah
Memasuki kawasan ‘savanah’ pengunjung berjalan di lorong yang kanan kirinya terdapat berbagai binatang khas gurun savannah. Desain tempat yang sesuai dengan habitat asli menjadikan kita laksana di Afrika 

Pasar Afrika,
Disini, kita bisa berfoto bersama patung2 khas afrika, burung2 cantik yang sudah jinak, melihat gajah….

Hippo and croc garden
Tentu saja, para pengunjung bisa menyaksikan buaya dan kuda Nil berbagai ukuran

Eagle, Tiger land
Di Eagle, berbagai macam elang dari berbagai negara dapat dijumpai disini. Sedangkan di Tiger land para pengunjung dapat menyaksikan harimau putih. Konsep konservasi, edukasi dan pendidikan yang menyatu menjadikan Batu secret Zoo memang istimewa.

Dari secret Zoo kami menuju ke Fantasy land.
Waaahhh senengnya di Fantasy land karena anak2 bisa main sepuasnya tanpa dipungut biaya, kecuali untuk naik kuda Pony !!! O ya disini kita juga bisa berkeliling ke SAFARI FARM dengan kereta khusus, memberi makan binatang ( beli makan Rp. 5000) dan melihat mereka dari dekat. Ada 9 zona binatang yang bisa kita lihat disini. Konsepnya seperti BALI SAFARI adnd MARINE, tapi tentu saja dalam skala kecil, karena hanya ada 9 jenis binatang yang kita ‘dekati’.


Di dekat pintu masuk Safari Farm juga ada Little farm. Disini, pungunjung kecil seperti anak bungsu saya bisa bermain dengan kelinci, kura-kura, kuda pony, bebek, angsa..... tentunya, kebersihan hal yang selalu dijaga ditempat ini, ada tempat cuci tangan disini, jadi setelah memegang aneka binatang anak-anak bisa langsung mencuci tangan...

Puas bermain di Fantasy land, bermain air, naik perahu, naik kuda, memberi makan burung, kami menuju museum satwa. Masuk museum, kami disambut sangkar raksasa! Berbagai macam diorama satwa, baik satwa darat maupun satwa air yang dibuat sedemikian rupa dan mirip aslinya membuat kami terkagum2!

Hal menarik lain yang ada di museum ini adalah pameran fosil. Aneka Fosil yang dipamerkan membuat kami bisa melihat dengan jelas struktur tulang binatang yang sudah punah. Fosil-fosil direkonstruksi sehingga menyerupai struktur satwa sebenarnya.

Selain diorama hewan, juga terdapat insektarium, yang berisi lebih dari 5000 jenis serangga di beberapa tempat dunia, seperti kepulauan Madagaskar, Peru, malaysia dan tentu saja dari Indonesia.

Berbagai tempat menarik untuk berfoto juga disediakan disini, termasuk diorama salju. Wah ! seperti piknik ke negara bersalju saja.

Di akhir perjalanan, kami disuguhi teater yang menceritakan film-film tentang satwa dan kehidupannya di alam liar, ditambah dengan simulasi anatomi satwa agar pengunjung bisa mengetahui seluk-beluk satwa dengan lebih baik dan bagaimana jika kita hidup tak menjaga alam. Serunya, diakhir film kita dihujani buih-buih yang mirip salju
Lengkap sudah perjalanan hari ini di jatim park 2. Dari pagi sampai sore ! lelahnya terbayar dengan senangnya melihat anak2 bermain dan bergembira disini....


Hari selanjutnya kami menuju ke Kusuma Agrowisata. Wisata petik buah incaran sulung saya, lala. Dengan membayar Rp. 43.000/ orang kami mendapatkan tomat cherry, jus buah dan pie apel, petik jambu 6x, dan petik apel 3x.


Sebenarnya sih yang kami inginkan unlimited edition, hehe... pengennya petik apel sepuasnya, tapi mana boleh ? Ini kan bukan kebun sendiri... Ya sudahlah. Yang jelas acara petik jambu, petik apel, dan keliling perkebunan membuat wisata kami di kota Batu malang jadi lengkap, menyenangkan dan istimewa.


Meski belum sempat menyambangi BNS karena kelelahan ataupun ke Selecta, Batu, Malang mengesankan sekali.

Perjalanan pulang kami mampir ke simpang Lima Gumul. Penasara, waktu itu lihat di Trans TV bagus banget. Mirip Arc de Triomphe Paris, haha....
Lumayan juga beberapa kali foto disini.... 

Selasa, 16 Agustus 2011

Langsung! nggak pake lama...

“Biar sedikit yang penting ikhlas...” Ah, itu kata-kata paling ampuh bila kita menerima proposal berisi permintaan sumbangan. Dengan kata lain sih sebetulnya : “Nyumbangnya sedikit aja ya?” Oh ya. Itu kata-kata saya juga dulu. Sebelum nyadar tentunya... Sebelum sadar kalau bila kita menyumbang nominal sangatlah penting, sebelum nyadar kalo (meskipun) tidak sepenuhnya iklas, nyumbang 100 ribu jelas lebih baik daripada 10 ribu... apalagi seribu! Uangnya kumal pula !

Kalau sedekah itu jangan tanggung-tanggung... Bill Gates aja, mendonasikan sebagian hartanya untuk kegiatan sosial. Tetep kaya! Lha Bill gates kan emang udah kaya? Mau disumbangin berapa aja dia juga masih kaya ... masalahnya kalo misalnya kita sekaya Bill gates ( mudah2an, aminnn) berani nggak ya kita mengambil keputusan yang sama? Atau mau tetep keukeuh memperjuangkan prinsip : Biar sedikit asal ikhlas?

“Kalau nyumbang itu kan nggak usah dipublikasikan..? kan lebih baik bila menyumbang dengan tangan kanan, tangan kiri nggak tahu. Yah gimana dong kalo tangan kanan tetep nggak mau sedekah ?? masak tangan kiri nggak boleh mengingatkan?? Atau dengan kata lebih ngenes lagi “diam-diam nggak sedekah!”

Sayang banget. Jelas jelas sedekah banyak manfaatnya. Selain menimbulkan rasa senang karena hormon endorfin dalam tubuh jadi meningkat, sedekah bisa melipatgandakan harta kita. Nggak percaya? Boleh dicoba !!

Ini pengalaman saya pribadi. Bolehlah sekali2 saya ceritakan. Suatu kali karena saya ingin membuktikan dengan nyata (biasanya jarang inget kejadian apa yang timbul setelah sedekah == mungkin karena nominalnya juga dibawah garis merah, hehe) saya nekat mengeluarkan hampir semua uang yang ada di dompet saya dan saya pindahkan ke panti asuhan. Tadinya sih masih khawatir juga, seminggu kemudian belanja pake apa ya?? Hehe... bisa jadi ini sedikit benih ketidakikhlasan dan menyangsikan hari depan yang sudah diatur oleh Nya. Dua hari kemudian, seorang teman yang bbrp waktu lalu ngajak sharing modal untuk usaha gordyn menelepon saya. “Mbak, dana dari customer udh cair, tumben cepet banget, saya transfer ya??” Gleg !! Biasanya nih dalam sekali order si customer suka molor molor dalam hal transfer mentransfer....

Itu baru satu. Esoknya, seorang dari shipping telepon saya dan memberitahukan saya dapat bonus dari bla bla bla... Nggak biasa2nya nih orang ngasih bonus ke saya. Alhamdulillah. Rejeki nggak boleh ditolak! Halal kok. Dan saya nggak pernah minta bonus ini itu dan anu.

Hehehe... jelas sudah dan sudah jelas terbukti. Langsung dan nggak pake lama. Jadi... masih sangsi untuk berbagi dengan sesama?

Kamis, 01 April 2010

Thailand, (Tiger Temple , menengok harimau yang tak merasakan darah...)

Dari river Kwai bridge, kami melanjutkan perjalanan ke main tour TIGER TEMPLE… aduh saya sampe deg2an saking senengnya… eit.. tapi mampir makan dulu… ini udah jam 12 an! Kami mampir di rumah makan… makanannya..Hmmm… selama di Bangkok, inilah makanan terenak yang pernah saya makan… Indonesia banget !!!

Kira2 jam 1 siang kami sampai di Tiger Temple. Jangan dibayangin ada Candi atau Kuil di situ… Ini adalah tempat konservasi harimau. Katanya sih harimau ini dulu induknya ditembak oleh pemburu liar… lalu dilindungi disini dan bekembang biak. Ada juga rumor yang mengatakan bahwa harimau disini berasal dari perdagangan gelap binatang buas. Dari manapun asalnya, yang jelas, harimau disini dilindungi, dirawat, dan diberi makan... daging matang agar mereka tak merasakan darah !! meski terdengar menyalahi kodrat, alasannya demi menyelamatkan populasi mereka dan (mungkin) agar lebih mudah dirawat oleh sejumlah sukarelawan yang berasal dari berbagai negara.
Selain Harimau, terdapat pula bnatang lain seperti beruang, monyet, buaya, kerbau, sapi, ayam, domba..... hehehe... bener lho ini. Tapi yang istimewa dan menarik perhatian wisatawan ya Harimau ini. Mereka (termasuk saya) lebih asyik nongkrongin Harimau2 yang pada males2an dibawah pohon....


Guide di tempat ini bernama James, seorang sukarelawan asal Australia yang bergabung dengan sukarelawan lain sejak beberapa tahun yang lalu. Dress code ke tempat ini adalah : Jangan memakai pakaian berwarna Merah, Pink, Orange dan turunannya. Pakaian paling aman ya warna Hitam, putih, biru. Menurut mereka mata harimau cepat merefleksikan warna2 'panas' tersebut. Pakai juga sepatu yang nyaman karena kita akan berjalan ke Canyon, dengan jalanan naik turun, menggiring harimau untuk mandi dan tidur siang...

Pertunjukanpun dimulai....

Kami (entah berapa puluh orang ) berkumpul di sebuah tempat, diberi pengarahan macam-macam, antara lain ; Kalo mau jalan sama macan harus tetap di belakang, jangan berisik, nggak boleh motret sendiri (serahkan karera pada guide/sukarelawan di Tiger Temple dan mereka akan memotret anda), kalo mau ambil gambar dilarang keras menggunakan flash.
Tibalah saatnya berjalan dengan Harimau. Sekitar limabelas orang maju duluan termasuk saya yang dari tadi nyempil2 sampe barisan depan.... kami berjalan dan secara bergantian mendapatkan kesempatan untuk menggiring harimau sambil sedikit narsis karena dipotretin.. hehehe...

sampai di Tiger Canyon, kami menunggu beberaa saat sampai seluruh harimau dan orang2 yang menggiringnya berkumpul. Menyenangkan sekali.... Melihat harimau dari dekat, menyentuh mereka... Seorang biksu tampak duduk diantara bebatuan. Inilah saatnya para sukarelawan memandikan (tepatnya mengguyur air badan harimau-harimau itu). Kami, para wisatawan yng berkumpul menyaksikan adegan itu dari jarak sekitar 5-10 meter.
Setelah acara memandikan dan harimau terlihat leyeh2 mengantuk, para wisatawan yang ingin mengabadikan dirinya dengan Harimau2 itu dipersilahkan antri. dua orang sukarelawan menggandeng saya untuk mendekati harimau itu satu persatu. Yang satu menuntun saya dan yang lainnya memotret saya... hasilnya... beberapa foto saya dengan harimau itupun tersimpan di kamera saya :))

Selesai di Tiger Temple kami menuju ke Hellfire Pass Museum. Musium ini ditata apik dan membuat pengunjungnya nyaman. Berisikan sejarah tentang pembuatan rel yang membentang dari Thailand ke Burma, yang dikerjakan oleh para Romusha dimasa kependudukan jepang dahulu. Yah... seperti melihat tayangan kesengsaraan bangsa sendiri di masa lampau. Lihat film di musium ini mengingatkan saya akan perjuangan bangsa Indonesia ketika masa kependudukan jepang. Miris dan sedih....


Keluar dari musium kami berjalan menuruni bukit.. ke tempat death railway... Yakni jalan diantara bukit batu.. sama seperti di cadas Pangeran Jawa Barat. Hanya saja disini dibangun rel. Inilah potret perjuangan rakyat Thailand di masa penjajahan. Waktu saya cerita sama teman saya bahwa dulu kakek saya seorang Romusha di Indonesia dan dia benci setengah mati sama jepang, dia benar2 terkejut dan meminta saya bercerita lebih banyak... ampiuuunnn.... sayapun berusaha mengingat2 apa yang embah saya ceritakan dulu plus sedikit bumbu penyedap dan kecap asam manis... hehehehe.....
Setelah puas berjalan di Hellfire Pass death railway... dengan tenaga yang tersisa kamipun terengah2 sampai ke atas. Hhhh... benar2 pegel, haus dan berkeringat. Saya benar2 merasa puas dan menikmati acara hari itu.


Sampai hotel sekitar jam 7. Setelah bersih, saya berniat jalan2 sendirian malam ini. ke Sua Lum Night Bazaar. Bukan buat belanja, ya cuman pengen tahu kayak apa sih thailand kalo malem.


Di lobi saya bertemu dengan front desk yang baik hati. Saya disarankan untuk tidak membawa paspor asli kalau bepergian sendirian, tidak membawa uang terlalu banyak, dan harus meletakkan tas di depan badan saya, bukan dicangklong dibelakang. Okeylah... Diapun memanggilkan saya taksi-meter dan berkata biayanya sekitar 60-70 Baht.


Berbekal pengalaman pertama, saya berlagak jadi orang Thailand tetap duduk anteng di taksi dan membayar dengan uang pas!!! 55 baht. Rasain !!!


Di Sua Lum nggak terlalu banyak yang menarik... saya juga cuman beli beberapa tas dan kaos untuk oleh2. harga dan kualitas nggak lebih baik dan lebih murah dari Indonesia. heran juga kenapa orang kita demen banget belanja macem2 kalo di Bangkok. Padahal... sama aja, barang yang dijual ya hanya itu2 aja. ugh.... atau jangan2 saya yang nggak terlalu suka belanja macem2 kalo kesuatu tempat ??

Sayapun keliling muter muter dan nemu tempat asyik untuk sedikit melemaskan kaki saya. Pijat Refleksi !! Dengan membayar 15o baht (45 ribu an ) sayapun menikmati 30 menit massage. Lumayanlah...... buat kaki saya yang super super capek hari ini.

Karena nggak ada yang menarik lagi, saya pun memutuskan kembali ke hotel. taxi-meter sih banyak... tapi sopirnya ilegal semua !! jadilah kami tawar menawar harga. Dari 100 baht (gila aja, saya kan tau harganya...) saya tawar terus sampe 70 baht !! 15 baht kebih mahal dari waktu berangkat.


Gak apa-apalah... lagian hari juga udah malam. taxipun meluncur dengan Pe-de nya. Tadinya saya tenang2 aja, tapi begitu si sopir ngeliatin kartu nama yang ada peta tempat hotel dimana saya nginep, saya mulai was2... jangan2 nyasar !!! Bener ... si sopir nggak tau pasti tempat hotel itu... Huhuhu.... saya gemes setengah mati !! Saya bilang kalau dia mesti nemu CC tower dulu. Akhirnya dia muter balik dan sampailah kami di CC Tower. saya bilang jalan aja terus... eh, dia ngeyel mau belok. saya ngotot dan bilang, kalo dia tetep belok juga saya turun dan ogah bayar Taksi !! hehehe.... Diapun nyerah dan ikutin petunjuk saya. nah kan !! bener apa yang saya bilang !! saya emang udah apal ancer2nya sejak 3 hari lalu !!!










Sampai hotel saya langsung disambut front desk yang tadi nyariin saya taksi. Diapun tergelak saat saya ceritakan kejadian tadi. Menurutnya saya sudah berlaku benar, jangan mau ditipu dan bersikap tegas pada sopir taksi !! Gila deh, hari ini capek banget, mana ,makanan di hotel nggak enak... ihiks....

















Thailand, ( kanchanaburi, kembali ke jaman Romusha )

Kanchanaburi... dari Pasar terapung sampai Rel kereta masa lampau


Selama di Thailand, dengan waktu saya yang amat sangat sempit… yang saya inginkan selain ke Ayutthaya, … Kanchanaburi . Awalnya nyaris putus asa juga nggak ada temen ke tempat itu. Padahal kalo ikutan tur ini biayanya bakalan membengkak kalo sendirian… mana transportasi umum ke sana jarang… tempatnya terpencil… Sampai akhirnya seorang teman asal San Fransisco yang juga ada urusan di expo mengirim email dan .. yuhuu… sayapun berhasil mengintimidasinya untuk mengikuti tour yang saya rencanakan…. Lumayan… nggak jadi tekor !!

Pagi-pagi sekali saya harus bersiap2 karena perjalanan dari Bangkok ke Kanchanaburi lumayan jauh… sekitar 3 jam lebih! Perjananan pagi ini menyenangkan. Udara berkabut dan belum banyak kendaraan berlalu lalang. Beberapa alat transportasi umum terlihat mulai mengangkut ibu2 ke pasar tradisional dan anak2 yang pergi ke sekolah. Driver kami sempat berhenti sebentar di lampu merah dan membeli rangkaian bunga untuk digantungkan kaca spion! “This is for Buddha…” katanya.

Perjalanan yang lama terasa membosankan. Tak banyak yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Di kiri kanan yang tampak sawah dan rumah penduduk,… sebenernya, pemandangan seperti ini kalo di banding di Indonesia kalah jauh… Teman saya mulai cerewet mengajak ngobrol kesana-kemari yang saya tanggapi dengan tersenyum … hahaha… bukannya apa2… lha, dia ngajak ngobrol apa aja saya nggak sepenuhnya mudeng !

Akhirnya setelah dua jam kamipun sampai di Floating Market Damnoen Sanduak. Kami naik perahu dan perahu nyaris berhenti di sepanjang penjual souvenir meski kami nggak beli apa-apa. Sungainya sendiri butek, banyak sampah bungkus makanan, dan… yah… standar lah.. malahan kayaknya lebih asik di Kalimantan! (Oh ya, ketika perahu akan berangkat seseorang sempat memotret kami yabg ada di kapal. Saya sempet kege-eran saya kira itu poto mau buat iklan di Thailand… ternyata oh ternyata sekembalinya kmi dari situ kami mesti beli poto itu seharga 150 baht!! Ogaaahhhhhh!!!!!)


Sepanjang floating market, pemandangan yang menarik buat saya malah ibu2 yang julan nasi di perahu… nenek2 tua yang jualan gorengan… yang lainnya ?? standar lah sama seperti pedagang souvenir di malioboro atau sukawati. O ya.. harga2 disini ampiunnn mahalnya… mesti nawar dengan kejam kalo mau beli apa2. Teman seperjalanan saya sampe terheran2 melihat kegigihan saya menawar gantungan kunci !! dari 500 baht sampe 150 baht ! Padahal menurut saya harga segitu untuk 6 gantungan kunci masih kemahalan… xixixi…

Setelah beberapa waktu menyusuri sungai dan melihat sana sini di floating market dan hanya membeli serenteng gantungan kunci (habis barang yang lain biasa aja sih… standart abiss ) kamipun menyudahi perjalanan dan melanjutkan perjalanan ke Kanchanaburi.

Lama dan membosankan. Itu yang saya rasakan selama perjalanan. Setelah kira2 jam 11 siang, kami sampai di War Cemetery. Hah ?? Apalagi ini ? Sayapun seperti orang bloon disitu. Gak tau mesti ngapain… Lha wong di taman makam pahlawan negeri tercinta aja nggak pernah dikunjungi… ini di negeri orang !! Mana saya tau siapa yang dikubur disitu… Udahlah ngikut aja … Ini adalah makam para tentara waktu PD II. Kebanyakan dari mereka berasal daru US, jerman, jepang dan entah manalagi. Daripada panas2an mending saya nyari tempat berteduh dan ngeliatin orang2 dari situ… hehehe…

Dari makam pahlawan, kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan River Kwai. Ini masih peninggalan PD II dulu juga… waktu Thailand dijajah oleh jepang. Jembatan ini membentang dari Kanchanaburi sampai Burma. Tentunya yang membangun ya para Romusha dulu. Kira2 kalo dibayangin mirip dengan masa kependudukan jepang sewaktu di Indonesia. Tapi sekarang rel tersebut hanya berfungsi dari Kanchanaburi sampai Nonthaburi. Penumpangnya ?? siapalagi kalo bukan para turis yang kebanyakan bule… Kalo saya sih… ugh… kereta gitu banyak di sini!! Ngapain juga rebutan naik.. malah ada yang lebih asyik…Kereta pengangkut tebu !!! …


Saya memutuskan berjalan di sepanjang Rel yang melintasi River Kwai. Pemandangannya bagus… dari jauh terlihat patung Dewi Kwan Im yang sepertinya baru selesai dibangun… atau diperbaiki ya??? Beberapa peringatan menunjukkan agar pengunjung berhati2 kalau berjalan di sekitar rel, soalnya menurut si guide, waktu peak season, seseorang pernah kecebur waktu jalan2 di situ. Yah… nggak heran, tempatnya sempit dan uyel2an … kalo ada orang mau melewati kita mesti bertoletansi dengan mengangkangkan satu kaki ke sebelah rel… ah susah amat ngebayanginnya…hehehe…