Tetangga saya, tinggal di gang sebelah yang baru saja menamatkan Master of Education di Austalia, baru-baru ini punya ide untuk mengajar anak-anak usia TK dan SD bahasa Inggris, dengan tema bermain sambil belajar tiap hari Minggu sore secara cuma-cuma. Saya, tentu saja menyambut dengan antusias sekali, saking antusiasnya sayapun dengan sukarela mengajak tetangga kiri kanan dan depan rumah saya untuk mengikutkan anaknya ke dalam kelompok belajar itu. Tadinya saya pikir, program ini bakalan menarik buat anak-anak disekitar yang rata-rata masih usia TK dan SD. Sayapun terus mensupport beliau. Selain orangnya menyenangkan, mungkin karena kami berlatar belakang pendidikan yang sama, keguruan pembicaraan kami pun nyambung dari percakapan ke percakapan. Memang kami jarang bertemu, paling sebulan sekali atau ketemu tak sengaja karena kami sama-sama sibuk. Namun, kemudahan berkomunikasi tak menghambat keakraban kami.
Hari minggupun tiba, hujan deras mengguyur tepat pada saat kelompok belajar akan dimulai. Anak saya, lala tetap berangkat dengan ‘membawa’ 2 orang temannya. Dan ternyata, memang hanya mereka bertiga yang datang. Kecewa? Saya rasa iya, namun saya berusaha menghibur, mungkin karena hujan, jadi anak-anak enggan keluar rumah. Saya khawatir beliau jadi patah semangat (padahal anak saya sudah semangat banget). Minggu kedua, cuaca cerah, dan saya berharap teman-teman lala yang lain banyak yang datang. Tapi sepulangnya dari kelompok belajar, ternyata hanya 1 orang yang berhasil dibawa lala. Waahh... alasan apalagi ini ? Si Ibu pengajarpun tampak kecewa, beliau bilang akan mengevaluasi progam ini 2 bulan kedepan, kalau yang datang hanya 3 ya sudah, berhenti saja. Tuh kan ? apa yang saya bayangkan terjadi juga....
Minggu ketigapun datang, Kali ini hujan deras benar2 datang tepat pada saat anak saya mau berangkat. Dengan bersemangat dia mendatangi rumah teman-temannya. Dengan polos saya lihat dari balik jendela Lala bilang “Nanti nyusul ya?” sambil kerepotan membawa payung yang kebesaran. Diam-diam, saya bangga pada sulung saya, meski hujan dan saya tak memaksanya berangkat, dengan kesadaran dia berangkat karena menurutnya, belajarnya menyenangkan! Saya hari ini berniat menyusul anak saya. Saat sampai di tempat belajar, ada 3 orang anak yang datang (dan yang 1 anak menyusul kemudian) Ah lumayanlah....
Kami berbincang, bahwa ternyata keinginan berbuat baik tak selalu disambut baik. “Kenapa ya. Bu?” beliau berkata galau. Saya jawab, tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, mungkin kalau bayar mereka malah antusias Bu! Saya mencoba bercanda, meski sebetulnya saya sangat menyayangkan kejadian ini.
Tapi berita baiknya beliau berkata : “Meski yang datang hanya 3 orang, saya akan mengajar mereka dengan sungguh2, saya akan buktikan 3 orang tak mempengaruhi apapun !” Wah saya terkejut sekaligus senang bukan kepalang. Iya, untuk seorang pengajar sekelas beliau, saya akan percaya diatas 100% akan kualitas dan keberhasilannya. Juga, saya salut disela-sela waktunya menulis buku, sebagai dosen, beliau masih menyempatkan berbagi ilmu dengan orang terdekat, tetangga. Bukankah dalam agama juga, tetangga menduduki peran penting dan harus didahulukan ketika kita akan berbagi ?
Di akhir perjumpaan, beliau berkata, “Bu, saya punya sesuatu !” Beliaupun mengambil sesuatu yang ternyata high heels yang dibelinya di Australia dan pas sekali dikaki saya. Saya bilang, hidup kalau pas memang menyenangkan, pas saya mau beli sepatu, eh pas dikasih ! kami tergelak dan mengakhiri percakapan di sore yang diguyur hujan.
Pastinya, punya tetangga memang menyenangkan, jika kita bisa saling support, membantu, menyingkirkan segala prasangka buruk dan banyak hal yang mengganggu.

